Inspiring Indonesian Woman: Sinar dan Salomena

Kekurangan yang menjadi kelebihan (keunggulan). Banyak dari kita yang memusatkan pada  hal yang menjadi kelemahan kita untuk kemudian ditutupi sehingga. Kita dikarunia oleh Sang Pencipta kehidupan dengan penuh keseimbangan. Ada dua hal yang selalu menyertai kita dalam kehidupan. Kupikir hal itu untuk membuktikan bahwa hanya Dia lah yang tunggal dan tidak ada duanya. Kita melihat bahwa ada kehidupan, ada kematian, tua-muda, besar-kecil, hitam-putih, dan banyak hal yang lainnya. Semuanya berpasangan. Tak terkecuali dengan kelebihan. Alloh memberikan kelemahan sebagai penyeimbang. Dengan berdiri dan berjalan seimbang, kita sudah menjadi orang yang kuat dan layak untuk mendapat penghargaan. Jangan salahkan kelemahan anda, terimalah kelemahan itu sebagai jalan untuk menjadi lebih baik.

Kisah Inspiring Indonesian Woman: Sinar dan Salomena

Terkait dengan hal itu, Indonesia memiliki dua figur wanita yang tak banyak orang mengenalnya. Aku pun tau mereka dari siaran telivisi, liputan enam di salah satu stasiun televisi swasta, SCTV. Mereka di anugrahi sebagai wanita yang menginspirasi banyak orang dari salah satu program acara, liputan enam award. Ada dua orang yang disebutkan dan diundang khusus ke SCTV, yaitu Salomena dan Sinar.

Sejauh yang aku tahu, Salomena adalah seorang wanita dari papua. Dia adalah anak dari seorang tetua adat (ketua suku) di Papua. Semasa sekolah, salomena menempuh perjalanan yang panjang, menempuh dua jam perjalanan dengan jalan kaki. Dia melewati jalan yang penuh rintangan, bahkan termasuk menyeberangi sungai dengan menggunakan sebatang kayu. Bayangkan coba, dia berjalan menyebarangi sungai dengan hanya kelihatan kepala yang disangga oleh batang kayu. Sungguh wanita perkasa. Dia punya cita-cita yang luhur dan tinggi yaitu menjadi dokter. Berdasarkan cerita yang dia paparkan di SCTV, dia kemudian diangkat menjadi anak asuh dan sempat kuliah di Jogjakarta tepatnya di UPN dengan mengambil program studi Teknik Lingkungan. Dia berkata, kalau ada kemauan pasti ada jalan. Entah bagaimanapun caranya. Sampai tulisan ini diturunkan mungkin dia masih kuliah.

Wanita kedua adalah seorang anak perempuan kecil yang masih duduk di bangku SD. Namanya Sinar. Apa kehebatannya? Di tengah kehidupannya yang dilanda kemiskinan, dia merawat ibunya yang sedang sakit, mulai dari memasak, menyuapi, hingga mencuci baju ibunya. Semua pekerjaan itu dia lakukan dengan senang tanpa terlihat wajah yang menderita. Bayangkan seorang anak kecil, perempuan berusia sekitar 7 tahun, merawat ibunya seorang diri. Sungguh seorang wanita kecil yang mengajarkan bagaimana seharusnya menyikapi hidup dan kehidupan.

Charlie, vokalis ST12 membuatkan lagu khusus buat Sinar dengan judul "Sinar Jangan Menangis". Pada saat membawakan lagunya tersebut, charlie tak kuasa menahan air matanya. Dia sendiri terhanyut dan terenyuh serta terharu saat menyanyikan lagu tersebut. Charlie mengatakan,"sampai saat ini, saya tak kuat untuk menyanyikan note lagu ini".

Kita, yang oleh sang Penjaga Kehidupan diberikan kelebihan dan kelapangan rizki (mungkin lebih baik dari Sinar dan Salomena), hendaknya senantiasa bersyukur. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengungkapkan rasa syukur tersebut. Pertama dan paling dasar adalah menerima diri kita sendiri dengan sepenuh hati, baik kelebihan maupun kekurangan kita sendiri. Dengan demikian, kita akan lebih mudah menerima orang lain apa adanya. Lihat orang lain itu memang karena orangnya bukan hanya karena pangkatnya, bukan hanya karena hartanya maupun karena titel/gelar dan embel-embel status sosial lainnya. Mungkin kita bisa berkaca dan mengambil pelajaran dari kehidupan yang dijalani oleh mereka, salomena dan sinar. Mereka tidak mengeluhkan kelemahannya. Mereka tetap bersemangat menjalani kehidupannya dengan semangat dan penuh keyakinan.

Kadang belajar tidak harus belajar di ruang kelas dengan pengajar seorang profesor. Bahkan seorang profesor sekalipun mungkin harus mengambil pelajaran yang disampaikan melalui anak kecil seperti Sinar. Dalam Islam ada contoh dimana seorang anak kecil mengajarkan pelajaran kepada kakek-kakek. Kalau tidak salah anak tersebut namanya Hasan dan Husen, cucu Nabi Muhammad.

Suatu ketika pada saat adzan berkumandang. Segenap muslim berdatangan ke mesjid untuk menjalankan shalat. Pada saat mengambil air wudlu ada, Hasan dan Husen melihat seorang kakek yang wudlunya tidak sempurna, entah terbalik urutannya atau gimana. Mereka berpikir, bagaimana caranya memberi tahu kakek tersebut tanpa dia merasa tersinggung. Kemudian mereka menyapa kakek itu setelah si kakek selesai wudlu dan minta kepada kakek untuk memperhatikan mereka wudlu apakah wudlu mereka sudah benar atau belum. Si kakek meng-iyakannya. Pada saat Hasan dan Husen wudlu, si Kakek menyadari kalau wudlunya sendiri tidak sempurna. Selanjutnya si kakek mengulangi wudlunya dan mengucapkan terima kasih kepada Hasan dan Husen yang telah mengingatkannya.

Banyak dari kita yang terkadang merasa bahwa kita adalah lebih baik dan lebih benar serta menganggap orang lain itu salah dan lebih jelek. Aku berdoa semoga aku dimasukkan ke dalam golongan yang bisa mengambil pelajaran dari siapapun. Dalam kehidupan sekarang, misalnya dalam dunia kerja, mungkin kita menemukan fenomena seperti ini. Bawahan takut menegur atasan, dengan berbagai alasan dan yang paling utama adalah takut dipecat. Sehingga banyak perilaku manusia sekarang bekerja dengan prinsip asal bapak senang atau ABS.

Memang tidak mudah untuk mengingatkan atasan atau pimpinan yang lalai atau khilaf. Jika caranya tidak tepat akibatnya bisa buruk dan yang paling buruk adalah hal yang disampaikan tidak tersampaikan. Jikalau kita menemukan sesuatu yang salah segeralah kita memperbaikinya dan bukan membenarkan kesalahan itu. Mari kita mengambil pelajaran hidup dan kehidupan dari siapa pun seperti Salomena dan Sinar.

Tambahkan Komentar Sembunyikan