Atasan Tidak Pernah Salah

Apakah Atasan Tidak Pernah Salah? Menurut saya iya benar, yang salah adalah kita sendiri. Mengapa begitu? Mari kita simak ulasan berikut.
Jangan menyalahkan orang lain, salahkan diri kita sendiri. Mungkin paradigma berpikir ini agak aneh dan bertentangan dengan kaidah umum yang ada. Saya pernah mendapatkan seorang bos yang bercerita tentang hal ini. Saya mau berbagi dengan anda.

Dia mengatakan bahwa siapa pun yang berbuat salah, hendaknya menyalahkan diri sendiri dan tidak menyalahkan orang lain. Hal itu berlaku umum pada level apa pun dengan kedudukan sebagai apa pun. Seorang pemimpin yang baik tentu tidak akan menyalahkan secara langsung bawahannya. Karena pada dasarnya, apapun yang dikerjakan oleh bawahan itu atas perintah, instruksi, ijin yang diberikan oleh atasannya. Kalaupun bawahan itu tidak tahu sehingga dia melakukan kesalahan, maka kesalahan atasan atau yang menyuruhnya karena tidak memberi tahunya terlebih dahulu.

Kesalahan diri sendiri atau orang lain termasuk atasan?



Sering kita mendapati atasan yang arogan dengan tidak mau mengakui kesalahan atau kelemahannya. Padahal mengakui kelemahan dan kesalahan bukanlah suatu kehinaan, dan justru malah sebaliknya. Dengan mengakui hal tersebut, seseorang akan mendapatkan simpati dan bahkan bisa dikatakan orang kuatlah yang bisa mengakui kelemahan dan kesalahannya. Memang sih tidak ada korelasi langsung antara jabatan, tingkat pendidikan dan status sosial dengan kemuliaan sikap. Sekarang bisa banyak kita temui dan sering kita dapati berita; seorang pejabat melakukan tindakan korupsi atau seorang profesor melakukan plagiatisme. Naudzubillahi min dzalik.

Ada pepatah. Tak ada dosa bagi yang tak tahu. Itulah ukuran yang sangat adil dan tepat yang dapat kita dapati bahwa anak-anak tidak dihisab. Sehingga kita sering mendengar ustad atau pemuka agama yang mengatakan bayi atau anak kecil yang meninggal maka baginya surga. Dan memang bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci, sehingga layak baginya diberikan surga.

Tapi memang sih, susah untuk melihat ke dalam diri dengan nurani yang murni. Nurani manusia dewasa terkadang sudah tercemar sehingga sulit untuk melihat kebenaran sebagai sesuatu yang benar. Orang dewasa pada umumnya lebih menyukai hal-hal yang mendatangkan keuntungan bagi dirinya sendiri dan membiarkan orang lain berada dalam kesusahan padahal dia bisa membantunya. Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di ujung laut pun terlihat jelas. Mungkin itu pepatah yang tepat untuk menggambarkan betapa sulitnya untuk melakukan koreksi diri atau muhasabah diri. Mari kita benahi cara pandang kita dalam menyikapi kehidupan sehingga kita tidak hanyut dalam keadaan yang tidak baik.

Tambahkan Komentar Sembunyikan